Cerpen Siswa

TAWA DI BALIK KASUR

Tiga hari lagi semua orang merayakan pesta pergantian tahun. Sepanjang jalan dihiasi lampu warna-warni dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang dipasang di tiang, ada juga yang digantungkan di pohon. Di pinggir jalan berjajar penjual mainan, seperti terompet, balon, dan lain-lain.
Setiap Tahun Baru tiba, Budi merasa bahagia. Maklum, pada tanggal 1 Januari itu, selain sebagai tanggal kelahiran kalender, juga sebagai tanggal kelahirannya. Kali ini, ia ingin ada suasana baru di hari ulang tahunnya. Ia sepakat bergabung dengan teman-temannya di lapangan Tugu Pahlawan.
Sepulang sekolah, Budi langsung masuk kamar. Tampaknya dia sedikit resah, sebab yang dicari tidak juga ketemu. “Di mana, ya?” katanya menggerutu. “Tadi kusimpan di sini. Siapa yang memindahkan uangku? Aduh….. bagaimana aku bisa membeli terompet kalau begini?”
Ketika tangannya mengangkat ujung kasur, ia terkejut. Bulu kuduknya berdiri. “Hahaha…!” suara itu terdengar tiba-tiba.
Dengan cepat Budi melepaskan ujung kasur. Suara tawa itu pun hilang. Budi masih tampak tegang. Matanya menerawang ke semua sudut ruangan, sambil bertanya dalam hati. Suara itu datang.
Malamnya, Budi masih merasa ketakutan. Rupanya suara tawa itu masih terngiang di telinganya. “ah, bagaimana ini?”gumamnya.
“Bi…. Antarkan aku ke belakang!” kata Budi ketika ia kebelet pipis. Bibi pun membuntutinya. Sampai di kamar mandi, Budi berpesan, “Jangan ke mana-mana. Tunggu aku sampai selesai ya!” Bibi menurut saja.
Ibu memperhatikan mereka diam-diam. Dalam hati Ibu bertanya, mengapa Budi sekarang bersikap seperti ini?” sebab tidak biasanya begini. Masak ke kamar mandi saja minta diantar. Tapi, Ibu belum ingin menanyai Budi.
Keesokan harinya, seperti biasanya, Ayah dan Ibu pergi ke kantor. Budi berangkat ke sekolah. Tapi, siangnya ia pulang terlambat. Ia mampir ke rumah temannya, Jaka dan Itok. Lalu diajaknya mereka ke rumahnya. Perlahan-lahan mereka bertiga berjalan memasuki kamar Budi. Ketika membuka pintu, mereka tidak langsung masuk. Seperti polisi patrol, mereka hanya berdiri di depan pintu.
“Ayo!” ajak Budi. “Kamu yang duluan,” jawab Jaka. “Kita masuk bersama-sama saja,”ajak Itok dengan mendorong keduanya ke punggung Budi dan Jaka. Mereka pun akhirnya sampai di dalam kamar.
“Nah, di sini. Tiba-tiba suara itu muncul, tapi tak ada orangnya,”jelas Budi. ”Apa sudah kau beritahu Ayah dan Ibumu?” tanya Jaka.
“Belum. Aku tak yakin mereka mau percaya ceriyaku. Nanti dikiranya aku menghayal. Makanya kalian ku ajak ke sini untuk menemani aku. Jangan pulang sebelum orangtua ku datang. Kalian mau, kan? Kalian boleh makan apa saja di sini. Kalau ngantuk, kalian juga boleh tidur di sini,”jelas Budi penuh harap.
Teman-temannya tidak sampai hati. Mereka mengabulkan permohonan Budi. Namun baru saja Itok merebahkan tubuhnya, tiba-tiba suara tawa itu terdengar. “Hahaha……! Hihihihi!”
Dan yang lebih seram, suara tawa itu berganti menjadi suara tangisan. “Hiihihihi…!” Itok langsung meloncat menghampiri teman-temannya. Mereka bertiga berangkulan erat. Pada saat itu pula suara itu tak terdengar lagi. Mereka tampak bengong. Matanya saling bertatapan.
“Kau tahu dari mana asalnya?” Tanya setengah selidik.
“Entahlah. Aku kaget sekali tadi,” jawab Itok, agak gemetar bibirnya.
“Aku juga kaget tadi,” kata Jaka. Matanya berputar penuh selidik.
“Ah, sudahlah. Kita tidur bersama-sama aja yuk.!” Ajak Budi kepada teman-temannya.
Mereka bertiga naik ke tempat tidur. Seketika itu, suara aneh itu terdengar lagi. Kali ini lama sekali, tak henti-henti, “hahaha ……! Hihihihi!”
Klik! Pintu kamar terbuka. “Ayaaaaah ….!” teriak Budi. “Wah, ada apa ini?” Mengapa kalian berkumpul di dalam kamar dalam keadaan ketakutan?” tanya Ayah.
Budi, Itok, dan Jaka berebutan menceritakan peristiwa itu. Mendengar itu, Ayah tersenyum “Ah, sebentar ada sesuatu yang ingin Ayah tunjukkan kepada kalian.”
Ayah yang masih berpakaian dinas itu menghampiri tempat tidur Budi. Ia langsung mengangkat kasur. “Nah, lihat!” Apakah benda ini yang membuat kalian takut ?” kata Ayah sambil menimang sebuah mainan robot.
Mereka terbengong. “Ini mainan yang baru ayah beli. Mainan ini dilengkapi tombol kecil, gunanya untuk membunyikan suara sesuai yang kita kehendaki,”jelas Ayah.
Ayah juga mengatakan kalau robot itu sengaja dibeli sebagai hadiah ulang tahun Budi nanti. “Semula Ayah bingung akan disimpan di mana robot ini supaya tidak ketahuan orang lain. Akhirnya tersirat dalam pikiran Ayah untuk menyimpan di bawah kasur Budi. Tak tahunya, malah membuat kalian ketakutan,” kata Ayah dengan suara canda. “Oooh….” sahut anak-anak bersamaan.
Setelah agak lama, Jaka dan Itok berpamitan. Tapi sebelum pulang, Ayah mengatakan bahwa malam TahunBaru ini mereka diundang makan malam bersama keluarga Budi di sebuah restoran untuk merayakan ulang tahun Budi.
Setelah itu, mereka bisa merayakan malam Tahun Baru di Tugu Pahlawan sampai tengah malam. Selamat Tahun Baru, DUNIAAAA.

Karya: Ricky Kurniawan Wenas

BELAJAR MENERIMA

“Mama dan papa jahat!” teriak Natania di dalam hati. Karena marah dan kesal, Natania berlari keluar rumah tanpa pamit pada siapapun. Ia betul-betul jengkel pada mama dan papanya.

Natania terus melangkah tanpa arah. Akhirnya tibalah ia di suatu daerah yang sangat kumuh. Banyak anak yang sebaya dengannya tinggal di tempat itu. Pakaian mereka begitu kotor dan kumal, namun mereka bermain dengan riangnnya. Natalia sangat iri melihat mereka. Melihat Natania mendekat, mereka langsung mengerumuni Natania.

“Kalian sedang bermain apa?” tanya Natania ramah. Anak-anak itu hanya menatap heran.

“Kamu siapa? Kamu bukan anak sini, kan?” mereka malah balik bertanya.

“Bajumu bersih dan rapi. Sedang apa kamu disini?” sambung salah seorang anak.

“Aku cuma jalan-jalan,” kata Natania berbohong. “Kalian semua seru sekali bermain. Orang tua kalian tidak mencari?” tanya Natania.

“Sebagian dari kami sudah tidak punya orang tua lagi,” jawab salah seorang dari mereka. “Tapi itu tidak masalah. Kami tidak merasa kesepian sebab kami selalu main bersama. Kamu sendiri bagaimana?” tanya seorang anak.

Pertanyaan itu membuat Natania terdiam. “Orang tuaku sedang bekerja.

Mereka juga tidak akan mungkin mencariku,” kata Natania.

“Aku boleh kan, ikut main?” tanyanya. Mereka semua mengangguk dan tersenyum.

Lalu mereka mengajari Natania bermain lompat tali. Natania merasa sangat senang. Ia tidak merasa sedih lagi. Ia hampir lupa pada masalah kedua orang tuanya.

Setelah kelelahan bermain, mereka duduk dan berbincang-bincang. “Kamu enak ya, Nat! Tinggal di rumah yang bagus dan mewah, bisa sekolah, dan punya banyak temen lagi,” kata anak yang bernama Ela. Rupanya Ela sangat ingin bersekolah, namun orang tuanya tidak punya cukup biaya.

“Iya, kamu memang beruntung, Nat! Kamu masih punya orang tua yang sayang sama kamu. Aku betul-betul iri padamu,” kata Dani, anak yang setiap harinya mengamen di jalanan. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan ia yatim piatu sekarang.

Tadi, Natania sangat sedih mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya akan bercerai. Natania mengira kedua orang tuanya tidak sayang lagi padanya.

“Kalian tidak perlu iri padaku. Meskipun aku punya orangtua, tetapi merka sebentar lagi akan bercerai. Aku sangat sedih…” bisikya dalam hati.

Lalu Natania memandangi teman-temanya satu per satu. Tiba-tiba ia sadar, bahwa ia harus segera pulang. Pasti orang tuanya akan sangat cemas. Natania buru-buru pamit pada teman-teman barunya itu.

Di jalan, Natania terus memikirkan kata-kata teman-temanya. “Mereka memang benar. Aku punya orang tua yang menyayangiku. Walaupun mereka akan berpisah, mereka tetap kedua orang tuaku. Aku juga punya banyak teman. Jadi buat apa aku sedih?” batinnya.

Sesampainya di rumah, mama dan papanya menyambut dengan lega. Rupanya sudah lama mereka menunggu Natania dengan cemas. Lalu mereka mengajak Natania ke ruanga tengah. Papa Natania mulai bicara.

“Natania, Papa tahu, Papa dan Mama memang salah. Tapi Papa dan Mama sudah memutuskan hal yang sulit ini…” Papa terdiam sejenak.

Lalu melanjutkan dengan nada suara yang sedih, “Natania, setelah Papa dan Mama berpisah, kamu akan tinggal dengan Mama. Semua ini bukan karena Papa tidak sayang sama Natania. Papa sering kali keluar kota. Natania akan lebih aman dan tidak kesepian kalau tinggal bersama Mama.”

Papa lalu terdiam, menunggu reaksi Natania. Mama juaga tampak tegang. Mereka tahu, Natania pasti sangat sedih. Akan tetapi, Natania langsung memeluk kedua orang tuanya. Kini Natania sudah bisa mengerti. Mungkin itu yang terbaik untuk kedua orang tuanya.

“Natania sayang Papa dan Mama. Dan Natania tahu, walaupaun Papa dan Mama berpisah, Papa dan Mama masih sayang sama Natania, katanya sambil tersenyum. Mendengar itu, papa dan mamanya tersenyum lega.

Karya: Lina Veronica

YOU MAKE ME FEEL

Teng,teng,teng…Bel tanda masuk mulai berbunyi, Cloudie berlari dengan tampang ketakutan menuju ke kelasnya, dan ternyata……
“Hah,hah,hah..ma..maaf Pak, saya terlambat.”
“Cloudie, Cloudie kamu ini sering sekali terlambat. Memangnya kamu ikut ronda malam?”
“Yah bapak, rumah saya kan jauh dari sekolah, jadi sering terlambat deh. Diharap maklum pak.”
“Ya sudah kamu duduk saja. Tapia was kalau lain kali kamu terlambat lagi, bapak tidak mau memberi kamu ampun. Mengerti?”
“Oke Pak!!! Makasih ya Pak?!” Cloudie selamat karena dia tidak terkena hukuman dari guru. Seperti biasa, Cloudie duduk bersama Windie. Windie adalah teman Cloudie sejak TK. Dan saat istirahat….
“Di, lu kok sering telat sih akhir-akhir ini? Jangan-jangan bener kata pak guru kalo lu ikut ngeronda.”
“Enak ajah. Gua sering telat itu soalnya gua nonton TV ampe pagi.”
“Yaelah..Bener-bener si ratu nonton lu. Emang lu gak pernah belajar yah?”
“Ya belajar sich. Bentar tapi. Hehehe…”
“Duh, kapan seh seorang Cloudie berhenti nonton, trus belajar?”
“Yah sebagai temen lu sabar ajah ngadepin gua. Lu kan orangnya sabar, ya gak?”
“Ya deh gua ngalah debat ma lu..!!!” Sambil berbincang-bincang mereka berdua menuju ke kelas. Dan……
“BUUUUKKK!!!!”
“Aduh..!”teriak Cloudie kesakitan.
“Sorry..sorry..Gua gak sengaja!”pinta Rendy.
“Duuhh..Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong! Jangan buku aja yang diurusin!”
“Gua kan udah minta maaf.”
“Maaf aja gak cukup tau!!!” Cloudie menarik tangan Windie dan pergi meninggalkan Rendy. Cloudie menjadi galak kepada lelaki karena dua tahun yang lalu ia pernah jatuh cinta dan merasa sudah ditipu untuk pertama kalinya oleh seorang lelaki. Karna itu dia menganggap semua lelaki itu sama. Cloudie sangat kesal kepada Rendy karena kejadian tadi.
“Di, apa gak sebaiknya lu maafin si Rendy. Dia kan udah minta maaf sama lu, masak lu gak kasian sih ma dia?”
“Udahlah Win gua males ngomongin itu.”
“Tapi Di…”
“Win! Gua udah bilang gak usah ngomongin itu lagi. Lu ngerti kan?” Wajah Cloudie tampak marah. Windie hanya bisa diam menerima perlakuan Cloudie. Tiba-tiba Rendy kembali mendatangi Cloudie dan meminta maaf.
“Di, untuk kedua kalinya gua minta maaf ama lu. Maafin gua ya di?”
“Ren, lu tuh budge apa blo’on sih, gua udah bilang gak, ya gak!!!”
“Tapi di….”sebelum selesai bicara, Cloudie langsung pergi meninggalkan Rendy dan Windie.
“Ren, maafin Cloudie ya. Dia mungkin lagi badmood sekarang, jadi lu maklumin dia yah. Entar gua bakal ngomong bareng dia deh, gimana?”
“Ya udah deh Win gua serain semua ma lu. Thanks ya Win.”
“Gak masalah.”Windie sudah bersedia membantu Rendy untuk meminta maaf kepada Cloudie.
###
“Hello girls.”
“Windie. Tumben lu kesini. Mau ngapain lu?”
“Gak boleh ya gua kesini?”
“Bukannya gak boleh, tapi kalo lu kesini biasanya ada maunya. Bener gak?”
“Di, lu kok jadi berprasangka buruk gitu ma gua? Gua kesini itu soalnya gua sendirian di rumah.”
“Lho, emang papa mama lu kemana?”
“Mereka pergi ke Amrik ada urusan kerjaan gitu, trus mama ikut buat nemenin papa. Gethoo.”
“Oh gua kira mau ngapain lu kesini.”
“Makanya jangan mikir yang buruk-buruk dulu dong. Huuuh!!!”
“Ya sorry,sorry.”
“Di, gimana soal Rendy? Lu tetep ga mau maafin dia?”
“Gak!!”
“Duh, kok ketus gitu sih jawabnya. Masih marah ya ma gua?”
“Gua gak marah kok.”
“Trus kok jawaban lu ketus gitu? Soal Rendy, gak sebaiknya lu maafin trus sekalian lu minta maaf ma dia? Kasian dia Di. Gak dapet maaf dari lu kayak jadi hari kiamat gitu buat dia. Apa lu gak kasian ma dia kalo dia jadi frustasi gara-gara gak dapet maaf dari lu?”
“Gua gak akan maafin dia apalagi minta maaf ma dia. Yang salah juga dia bukan gua, ngapain gua minta maaf ma dia.”
“Ya udahlah Di, gua mang gak bisa menang debat bareng lu. Tapi gua harap lu pikir-pikir lagi. Ya udah ya gua mau pulang dulu. Bye..”Setelah Windie pulang, Cloudie mulai memikirkan ucapan Windie tentang Rendy.
###
Pagi itu…
“Di buat yang kemaren gua minta maaf yah?”
“Iya.”
“Kok jawabnya gitu sih. Lu ikhlas gak kasih maaf ma gua?”
“Ikhlas.”
“Tuh kan. Lu pasti gak ikhlas deh kasih maaf ma gua.”
“Rendy gua ikhlas seikhlas-ikhlasnya.”
“Ya udah kalo gitu gua percaya. Thanks ya Di. Lu baek banget. Daaag..”Sapaan Rendy membuat Cloudie tertegun.
“Di, denger-denger lu udah maafin Rendy yah?”
“Iya. Napa emangnya?”
“Ya gak papa, gua Cuma mau nanya ajah ma lu. Ternyata lu bener-bener dengerin omongan gua. Trus lu liat muka Rendy gak waktu lu udah kasih maaf ma dia?”
“Gak tuh. Emang napa sech?”
“Muka Rendy tuh kayak berseri-seri gitu. Waktu minta maaf pertama kali ma lu juga, dia ngotot banget. Kayaknya ada apa-apa deh.”
“Win, lu gak usah punya pikiran negative gitu deh. Dia ngelakuin itu karma dia ngerasa bersalah ma gua.”
“Masak Cuma gara-gara itu dia ngelakuin hal itu. Menurut gua itu aneh banget. Kayaknya emang ada yang disembunyiin deh.” Mendengar semua itu Cloudie merasa penasaran.
“Di, kalo Rendy bener-bener ada feel nih ma lu, lu gimana?”
“Gak mungkin, dan gak akan pernah kejadian!!”seru Cloudie tegas mengarisbawahi kalimatnya itu.
“Lu jangan bilang gak mungkin dulu dong. Siapa tau kan? Gini deh, kalo memang itu kajadian, gimana reaksi lu?”
“Bakal gua abaikan!”sambar Cloudie pasti.
“Kalo perlu gua bakal narik diri sekuat tenaga dari dia. Gua gak mau mikirin cowok-cowok berotak udang. Gak penting?!!!”
“Memang gak bisa gua ngalain lu. Ya udah kalo gitu.”raut wajah Windie terlihat prihatin melihat keadaan Cloudie.
###
Saat berada di kantin, Cloudie mulai memikirkan perkataan Windie, tapi langsung mengabaikannya lagi. Setelah dari kantin, Cloudie berniat menuju perpustakaan.
“Halo Di. Mau kemana?”
“Ke perpustakaan.”jawab Cloudie dengan ketus.
“Duh ketus banget sih jawabam lu. Emang lu masih marah ya ma gua. Gua kan udah minta maaf buat yang kemaren.”Cloudie tidak menghiraukan perkataan Rendy dan dengan langkah yang cepat pergi meninggalkan Rendy. Tapi Rendy tetap mengikuti Cloudie membuat Cloudie risih.
“Ren, mau lu apa sih? Gua kan udah maafin lu. Ren, please jangan bikin gua marah, pusing, dan….”
“Dan apa?”
“Gua mohon jangan ganggu gua lagi. Jangan bikin gua pusing ama hal-hal kayak gini. Mau lu sebenernya apa?”
“Mau gua?Apa yah mau gua?”
“Apa?”
“Gua Cuma mau bilang kalo lu cantik and I like you!”Rendy berseru dengan tenang dan tanpa ada perasaan bersalah.
“Hah..?!Basi!!”sahut Cloudie sebal.
“Di, gua beneran. Percaya ma gua!”pinta Rendy. Cloudie tidak menghiraukan perkataan Rendy dan tetap berjalan menuju perpustakaan, dan tiba-tiba….
“Buuuukk!”Cloudie terkejut seketika menerima lemparan keras bola basket yang tepat mengenai bagian pinggangnya. Cloudie meringis kesakitan diantara tawa anak-anak yang menganggap kejadian memalukan itu sebuah tontonan ketoprak humor gratis.
“Heh bodoh! Kenapa diem aja? Cepet lempar bolanya kesini!”teriak salah seorang dari pemain basket itu. Cloudie melihat Rendy mengambil benda bundar yang mempopulerkan nama Michael Jordan dan membuatnya jadi idola top dunia. Rendy berjalan lambat menghampiri para pemain basker kebanggaan sekolah itu disertai senyum samara di wajahnya.
“Apa kalian bisa minta maaf sama Cloudie?”pinta Rendy sambil menunjuk kearah Cloudie. Kalimat Rendy itu membuat Cloudie tertegun untuk kedua kalinya.
“Apa katamu?Minta maaf? Siapa suruh pacaran gak liat-liat tempat. Cepat lempar bolanya ke sini!”pinta kapten basket kebanggaan sekolah itu.
“Gua bilang cepet minta maaf!”pinta Rendy ngotot.
“Ya Tuhan Rendy tuh nyari gara-gara banget sich.”cepat-cepat Cloudie melangkahkan kaki menuju ke tempat Rendy. Tapi, sepertinya semua sudah terlambat. Mereka sudah saling berhadapan dengan tatapan mata tajam.
“Dasar anak kecil!”gumam sang kapten basket seraya mencolek hidung Rendy dengan jempol tangannya. Dan beberapa detik kemudian mengarahkan tonjokkan kearah Rendy.
BUUGG!!Wajah Tony sang kapten basket itu merah memar. Sebelum kepalan tangan Tony sampai kepada Rendy, bola basket itu lebih dulu hidung Tony, hingga badan besar Tony tersungkur ke lantai.
“Kalo minta maaf berguna, buat apa ada kekerasan?”seru Rendy tersenyum sambil berjalan dengan santai menuju kearah Cloudie, dan langsung menarik pergelangan tangan Cloudie menuju perpustakaan. Cloudie tidak dapat mengelak, karena peristiwa itu terjadi begitu cepat. Dan entah kenapa sentuhan jari-jari kekar Rendy justru membekukan otot-otot tubuh Cloudie.
###
Tangan Cloudie segera membuka buku biologi dan mendengar penjelasan dari guru, sembari menengok kearah Rendy yang sudah mengacak-acak sistem syarafnya dan menyesali segala doktrin-doktrin, dan berkata”YOU MAKE ME FEEL”.

Karya: Aprillia Andriany

CELENGAN ARYO

Sudah sebulan lebih Aryo menabung uang jajannya untuk membeli mobil tamiya. Dan hari ini ia kembali menimang-nimang celengannya yang semakin berat. “Wah sebentar lagi penuh. Dan aku akan punya tamiya seperti punya Kevin,” gumamnya di dalam hati.
Sore itu Aryo mengayuh sepedanya pergi ke rumah Gimin. Gimin tinggal di sebuah kampung di dekat komplek perumahan Aryo. Ia teman sekelas Aryo.
Sudah tiga hari ini Gimin tidak masuk sekolah. Biasanya, bila Gimin tidak masuk, pasti akan menitipkan surat padanya untuk disampaikan ke guru. Tapi mengapa kali ini tidak. Ada apa ya? Tanya Aryo pada diri sendiri.
Setiba di rumah Gimin, Aryo memarkir sepedanya. Suasana rumah anyaman bambu itu sepi. ‘Ahh, jangan-jangan Gimin pergi?”batinya.Tok tok tok!
Perlahan Aryo mengetuk pintu papan. Terdengar suara sandal diseret. Kemudian…..
“Eh, nak Aryo! Kok tumben main ke sini? Ada apa ya?” ibu Gimin mempersilakan Aryo masuk.
“Bu, ada Gimin?”
“Wah, Gimin sedang bekerja.”
“Kerja? Maksud Ibu?” tanya Aryo terkejut.
“Gimin kan, sudah tidak sekolah lagi. Jadi, ya saya suruh saja dia membantu bapaknya mencari barang rongsokan.” Wajah ibu Gimin terlihat murung. Mereka terdiam beberapa saat. Tiba- tiba….
“Eh…, Aryo sudah lama?” sapa Gimin yang baru datang. “Wah, sorry nih tanganku kotor. Sebentar ya,” Gimin melangkah ke belakang. Setelah mandi dan berganti baju, Gimin menemui Aryo.
“Sebentar ya Nak, Ibu ke belakang dulu,” kata ibu Gimin. Aryo mengangguk ramah. Kini tinggal Aryo dan Gimin.
“Min, kata ibumu, kamu tidak sekolah lagi ya?” tanya Aryo.
“Aku sih sebenarnya masih ingin sekolah. Tapi… dua hari lalu aku dipanggil kepala sekolah. Katanya aku akan diberi kesempatan untuk melunasi tunggakan uang sekolah sampai akhir bulan ini. Orangtuaku tidak punya uang, Yo. Makanya aku keluar saja, dan akan cari kerja,” jawab Gimin lesu.
“Terus kamu mau kerja apa?”
“Apa sajalah yang penting tidak mencuri. Jadi tukang pel juga mau.”
“Berapa sih uang sekolahmu.”
“Seratus ribu.”
“Hah, sebanyak itu! Kau kemanakan uang sekolahmu selama ini?”
“Dipakai berobat ibuku. Untuk dapat uang lebih, Ibu mengambil banyak cucian. Tapi karena terlalu lelah, ibuku malah sakit.”
Lama mereka terdiam, dan akhirnya Aryo pamit pulang.
Sepanjang jalan, pikiran Aryo tertuju pada Gimin. Sayang sekali kalau Gimin harus putus sekolah. Apalagi ia bukan anak yang bodoh. Pikir Aryo.
Esoknya, pagi-pagi sekali Aryo ke kantor Tata Usaha. Diserahkannya uang recehan sejumlah seratus ribu rupiah kepada petugas pembayaran. Petugas pembayaran memberikan bukti tanda lunas uang sekolah atas nama Gimin.
“Ah, pasti Gimin senang bisa sekolah lagi.” Aryo merasa bahagia sekali.
“Aryo!” terdengar suara memanggilnya. Aryo mencari asal suara tersebut. Ah ternyata Bu Corry, wali kelasnya.
“Ada apa, Bu?”
“Aryo, ini Ibu titip surat untuk Gimin. Tolong disampaikan ya. Terima kasih sebelumnya,” kata Bu Cory sambil memberikan sepucuk surat bersampul putih.
“Ya Bu.”
Pulang sekolah, Aryo segera berganti pakaian. Ia makan dengan cepat, lalu mengambi sepedanya. Udara panas sekali, tapi ia tak perduli. Aryo mengayuh sepedanya menuju rumah Gimin.
“Lo, ada apa, Yo?” tanya Gimin yang kebetulan sedang memisahkan kardus-kardus bekas di depan rumah.
“Ada surat dari Bu Corry. Cepat baca, Min.”
Gimin segera membuka sampul surat pemberian Aryo.
“Oh, terima kasih Tuhan,” teriaknya senang.
“Memangnya ada apa?” tanya Aryo.
“Yo, aku boleh sekolah lagi. Terima kasih Tuhan.” Mereka berdua saling berpelukan.
“Tapi siapa ya, yang melunasi uang sekolahku?” gumam Gimin. Aryo pura-pura tak mendengar. Tetapi hatinyabersyukur pada Tuhan yang telah menerangi pikirannya.
Malam harinya, Aryo mengambil celengannya yang kini sudah kosong. Dia tak kecewa meskipun gagal membeli tamiya. Malam itu Aryo tidur lebih nyenyak daripada malam-malam sebelumnya.

Karya: Rexy Kurnianto Wenas

SALAH MASUK

Kamis itu, Doni terburu-buru berangkat ke sekolah. Ia bangun kesiangan karena menonton televisi sampai larut malam. Kebetulan hari itu orang tuanya sedang pergi keluar kota sehingga tak ada yang membangunkannya. Ia melanggar nasihat orang tuanya untuk tidak menonton televisi sampai larut malam. Ia baru terjaga setelah jam kamarnya berbunyi keras. Ia ingat bahwa tadi malam ia lupa memasang alarm wekernya sehingga weker itu tidak bisa membuatnya terjaga pagi-pagi.

“Hah, udah pukul 06.35 ! ”teriak Doni saat bangun tidur.
“Wah, celaka kalau begini, aku bisa terlambat, “batin Doni sambil terburu-buru ke kamar mandi dan mandi dalan waktu yang sangat cepat.
Selesai memakai seragam, Doni mengayuh sepedanya ke sekolah dengan terburu-buru. Karena kurang hati-hati di tikungan, ia tidak bisa membelokkan sepedanya dengan baik . Akibatnya, sepeda masuk selokan. Untung, ia tidak cidera, tetapi pakaiannya jadi basah.
Sambil mengumpat, ia menaikkan sepedanya kembali ke jalanan, lalu melanjutkan mengayuh. Sesampainya di halaman sekolah, ia melihat Pak Tohar, guru agama masuk kelas. Setelah memarkir sepedanya di tempat parkir, ia langsung berlari masuk kelas mengejar Pak Tohar.
“Maaf Pak, saya terlambat! “kata Doni terengah-engah dan gugup”.
“Mengapa kamu terlambat, Doni? Tanya pak Tohar.
“Maaf, Pak sa … sa … saya kehujanan, lalu saya berteduh dulu, “jawab Doni dengan penuh ketakutan karena telah berbohong.
“Mana ada hujan? Dari tadi cuaca cerah sekali, “kata Pak Tohar.
“Eh, iya Pak. “ jawab Doni makin gugup.
“Nah, kamu berbohong, kan? Terus terang saja kepada Bapak” kata Tohar penuh selidik.
“Iya Pak, saya berbohong, saya mohon maaf karena bangun kesiangan sehingga saya berangkat tergesa-gesa. Ketika di tikungan, saya tidak bisa mengendalikan sepada. Akibatnya, sepeda saya masuk selokan, “jawab Doni lirih sambil tertunduk malu.
“Sudahlah, Bapak maafkan. Lain kali jangan di ulangi lagi. Untuk hari ini kamu tidak perlu mengikuti pelajaran Bapak dulu. Berjemurlah di luar. Lagi pula, kelas ini, kan, bukan kelasmu, ini kelas IX C, “kata Pak Tohar. Kontan saja seluruh kelas menertawakannya!
“Tapi, hari ini Bapak mengajar agama di kelas saya, kan Pak? “tanya Doni.
“Hari ini hari Kamis bukan jum’at, Bapak mengajar di kelasmu hari besok pagi!
“kata Pak Tohar tegas.
“Oh, iya, Pak! Terima kasih! “ katanya sambil meninggalkan kelas.
“Pantas saja, mereka semua menertawakanku. Ternyata, aku salah masuk kelas. Sudah basah, salah masuk kelas lagi, sungguh sial hari ini, “kata Doni dalam hati menyesali keteledorannya.
Setelah beberapa saat menjemur dirinya untuk mengeringkan pakaian, ia minta izin masuk ke kelasnya. Ia benar-benar kapok untuk menonton TV lagi sampai larut malam.

Karya: Marcel Lawinata

NILAI SEBUAH WAKTU

Didepan kelas IX B, sekumpulan anak prempuan membicarakan sesuatu yang tampak serius.
“Eh, … tadi kelas IXA ulangan Matematika! Mungkin nanti setelah istirahat giliran kelas kita, ya” kata Ema.
“Ah, tapi Pak Indra tidak memberi tahu kita sebelumnya. Masa’ sih tiba-tiba ada ulangan” bantah Irma sambil menyeruput es lilin.
“Kelas IX A juga tidak diberi tahu sebelumnya, kok! Pak Damar, kan pernah bilang jangan kalau mau ulangan saja kita belajar! Tak ada ulanganpun kita harus tetap belajar. Jadi, kalau ada ulangan mendadak, kita sudah siap” kata Ema.
Beberapa anak mulai beranjak pergi. Mereka mulai mengambil buku Matematika dan mulai belajar. Ya, waktu yang sedikit itu tentu dapat digunakan untukmempelajari kembali pelajaran yang lalu.
Tito yang mengetahui percakapan anak-anak perempuan sejak tadi menjadi gelisah dan kebingungan. Akhirnya, ia memutuskan untukpulang saja karena tidak siap ikut ulangan. Ia segera mengemas buku dan alat tulisnya.
Sambil berpura-pura sakit, ia menuju ruang Kepsek. Ia meminta izin pulang dengan alas an perutnya sakit. Bapak Kepsek lalu memanggil guru kelas Tito dengan seizing guru kelas dan Kepala Sekolah Tito pun pulang lebih awal. Ia tidak berani pulang kerumah karena takut dimarahi ibunya. Iapun memutuskan untuk duduk ditaman.
Hampir semua bangku ditaman penuh. Hanya ada sebuah bangku diujung taman yang didukui seorang wanita tua. Tito pun kemudian melangkah menuju bangku itu. Wanita tua itu rupanya sedang merajut.
“Selamat pagi, nek” tegur Tito, “boleh saya duduk disini?”
“Oh, tentu, Nak!” sahutnya sambil menggeser tempat duduknya
“Nenek sedang apa?” Tanya Tito.
“Sedang merajut baju hangat” jawab nenek.
“Untuk dijual?”
“Tidak”sahutnya lagi
“Untuk cucu nenek?” terka Tito kemudian
“Semua cucuku sudah besar-besar. Nenek membuat baju ini untuk mengisi waktu saja. Nenek tinggal diseberang jalan ini. Ya, tidak banyak yang dikerjakan oleh orang tua seperti nenek ini” katanya sambil menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, ia melanjutkan “Nenek sudah tidak sekuat dulu. Mencuci piring atau memasakpun sudah tidak mampu. Nenek senang membaca, tetapi sekarang sudah tidak mampu meihat huruf yang kecil-kecil. Padahal, nenek tidak biasa berpangku tangan sepanjang hari. Nenek tidak pernah menyia-nyikan waktu. Dulu, guru nenek selalu menasehati untuk mengerjakan sesuatu yang berguna bagi diri kita dan orang lain. Sekarang, ada satu kemampuan nenek yang tidak banyak memakan tenaga dan pikiran. Ya, membuat baju-baju hangat kecil ini.”
Tito terkesima mendengar cerita itu, dalam hatinya, ia mengakui kebenaran ucapan si Nenek. Ibunya pun pernah berkata bagitu.
Perasaannya terpukul. Ia telah mebuang-buang waktu dengan percuma. Duduk dibangku tamanini, tanpa mengerjakan apapun, hanya untuk menghindari ulangan Matematika.
Ia menyesal, kalau saja ia dapat membagi waktu dengan baik, tak perlu takut ulangan. “Mulai hari ini, aku harus belajar, aku harus siap menghadapi ulangan, kapanpun dilaksanakan” begitu tekadnya dalam hati.

Karya: Yehezkiel Billy Oentoro

AKU INGIN DITERIMA TEMAN-TEMAN

Pagi itu saat berangkat ke sekolah, aku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Saat itu keadaan di kelas berubah tidak ada yang mengejekku tetapi, tidak kusangka masih ada yang tetap mengejekku. Orang pertama kali mengejekku itu adalah Jimmy Pujianto. Ia berkata,”Hei Blacky, apa kabarnya?” Ia yang pertama kali mengejekku dengan julukan “Blacky”. Aku enggak tahu kenapa Jimmy memberikan julukan itu kepada aku. Lalu aku menjawab,” Kenapa sih kamu selalu mengejek aku dengan nama itu padahal aku tidak pernah mengejek kamu sebelumnya?” tapi, Jimmy tidak memperdulikannya dan dengan santainya pergi ke tempat duduknya begitu saja tanpa bilang minta maaf kalau itu hanya bercanda pada aku.
Saat itu, temanku banyak yang memperhatikan aku dengan wajah yang setengah biasa dan ketawa, tetapi Lani berkata,”Wi, kamu yang sabar ya. Soalnya, Jimmy orangnya emang seperti itu jadi, kamu jangan pedulikan ya?” “Makasih ya sudah mengingatkan aku.” jawabku padanya. Mulai dari perkataan Lani itu aku berusaha untuk tidak memperdulikan omongan Jimmy. Tetapi, omonganya lama-kelamaan membuat aku jengkel dan akhirnya aku berkata,”Kenapa kamu selalu mengejek aku dengan nama itu! Apa salahku sampai-sampai kamu memberi julukan pada aku seperti itu!” dengan suara yang sangat keras tanpa mempedulikan tema-temanku yang sudah sejak tadi melihat ke arahku dengan wajah bingung dan takut karena mungkin melihat bagaimana aku marah pada orang lain walaupun itu temanku sendiri.
Kkkriiiing… Bunyi bell tanda istirahat telah tiba tapi, sebelu kelua kelas Jimmy berkata padaku,”Aku mengejek kamu dengan nama itu karena kulit kamu itu yang hitam dan gelap.” Setelah itu,”Uuhh….Dasar orang gila! Masa hanya karena dia putih boleh mengejek sesuka hatinya kepada orang yang tidak sama dengan kulitnya itu!”jawabku sambil memukul-mukul meja yang ada di depanku itu, tapi untungnya mejanya itu tidak patah kalau misalnya patah, aku harus menggantinya dengan baru. Lalu aku segera pergi ke kantin sebelum jam istirahat selesai, disana aku bertemu dengan penjaga perpustakaan dan penjual kantin berkata,”Waduh…. Apa kabarnya nih? Kamu sudah lama lho tidak datang kesini beli-beli makanan.” Lalu aku berkata,” Maaf bukannya begitu tapi, karena saya sering beli bakso di belakang makanya saya jarang kesini.”jawabku sambil pergi meninggalkan penjaga perpustakaan dan penjual yang ada di kantin itu.
Kkkriiing…Bell tanda masuk kelas sudah bunyi. Sepertinya sudah saatnya aku masuk kelas bersamaan dengan teman-temanku yang lainnya tapi, sebelum itu biasanya kami semua berbaris dulu setelah itu barulah masuk ke kelas. Saat di kelas pelajaran akhirnya dimulai juga tapi, ada satu hal yang selalu aku pikirkan yaitu mengapa Jimmy selalu mengejekku? Apakah aku sebelumnya pernah mengejeknya? Lalu, saat ada pengumuman kalu ternyata akan ada UTS (Ujian Tengah Smester) minggu depan. Setelah pulang dari sekolah aku langsung ke kamar dan memprsiapkan apa yang harus aku siapkan untuk UTS minggu depan.
Hari pada saat menjelang UTS, Aku bersama dengan Lani dan teman-temanku yang lainnya mengadakan yang namanya kelompok belajar bersama, pada waktu itu pokok pembicaraan kami adalah tentang pelajaran IPA tapi tidak ada satupun dari Lani ataupun teman-temanku yang lainnya hafal tentang rangka, akhirnya dengan berani aku berkata,”Aku hafal tahu bagian-bagian rangka manusia.” Emang apa saja rangka yang ada di tubuh manusi?”tanya salah satu temanku padaku. Lalu aku menjawab dengan berkata,”Biasanya dalam rangka yang ada di tubuh manusia terdapat 3 bagian yaitu bagian kepala, bagian badan, dan bagian bawah (bagian kaki).” Temanku diam lalu berkata,”Ehm… Betul juga kamu, memang sih dalam rangka yang ada pada tubuh manusia terdapat 3 bagian yang sudah kamu jelaskan itu padaku dan semuanya.”
Saat berada di rumah, aku pulang ke rumah dengan perasaan yang begitu senang karena teman-temanya beberapa orang telah mau menerima bagaimana sepantasnya, walau itu enggak banyak jumlahnya tapi itu sudah lebih dari cukup buatku. Setelah itu aku melanjutkan lagi belajar untuk UTS pada saat hari pertama besok.
UTS telah dimulai hari ini, lalu aku berkata,” Hari ini adalah saat-saat aku harus bisa mendapatkan nilai yang baik untuk kedua orang tuaku.” “Hello…Apa ada orang disana kok dari tadi aku panggil kamu diam saja? Memang kamu sedang melamun apa?”tanya Lani yang sudah berada di sampingku sambil menunggu jawaban yang keluar dari mulutku. Lalu, aku berkata,”Enggak kok. Aku tadi sedang berpikir bahwa inilah saatnya aku harus memberikan nilai yang terbaik untuk kedua orang tuaku, karena bagaimanapun mereka yang telah selama ini sudah membuat aku mejadi sepeti sekarang ini.” “Oohh… Begitu ya.”jawab Lani dengan santainya padaku. Lalu, sebelum bell tanda masuk kelas berbunyi Jimmy menghampiri dan menanyakan padaku apa aku dapat mengajarinya, Tiba-tiba bell berbunyi tanda masuk kelas sebelumnya aku mau bilang bahwa sebenarnya aku mau saja mengajarkannya tapi, waktunya tidak memungkinkan aku harus mengajarinya. Yang akhirnya, setelah itu semua teman-temanku dapat menerima aku apa adanya tanpa membeda-bedakan warna kulit, tapi kecuali Jimmy yang mungkin sampai sekarang masih belum bisa, tapi aku sudah memaafkannya.

Karya: Maria Dewi Puspasari

TOPENG NALAR

Sudah tiga hari Nalar demam. Biasanya demamnya cepat hilang begitu dikompres air atau keningnya ditempeli irisan bawang merah. Kemarin neneknya sudah membawa dia ke Mak Moyong—dukun anak. Kata si dukun kena sawan. Tapi demamnya tak juga turun ketika ia dipaksa neneknya minum jamu dari Mak Moyong.
Kalau sore ini aku dapat gaji mingguan, Nalar akan langsung kubawa ke Dokter Kiki. Puskesmas sudah tutup saat aku bubaran pabrik. Tidak tega aku jika menunggu sampai besok. Demam Nalar begitu tinggi. Lagi pula penyebabnya aku sendiri. Sebagai ibu dan penyebab sakitnya, aku harus bertanggung jawab. Apalagi sudah setahun ini hubunganku dan Nalar tak begitu hangat.
Penyebabnya, ketika setahun lalu, ia melihat aku nopeng dengan Ibu di kampung, Nalar memaksaku untuk mengajarinya nopeng. Aku menolak. Sudah cukup rasanya garis keturunan penari topeng berhenti di tubuhku. Lagi pula tanggapan nopeng sudah tidak sebanyak dulu saat aku remaja. Sejak tak banyak tawaran nari, aku memutuskan jadi buruh rokok. Pemasukan rutin meski sedikit ternyata lebih mampu menyambung hidup kami bertiga: aku, ibu, dan Nalar.
Selain soal penghasilan, aku tidak tega jika membiarkan Nalar melalui sejumlah ritual yang harus kujalani dulu. Puasa mutih, ngrowot, Senin-Kamis, belum lagi dalam waktu-waktu tertentu harus tidur di lantai tanpa alas, hingga tapa kungkum. Aku menjalaninya karena tidak ada pilihan lain. Bukannya aku tidak suka menari. Namun, aku harus realistis. Rumah ini sudah kehilangan para lelakinya. Baik ayahku maupun suamiku. Mereka ditakdirkan meninggal mendahului para istrinya. Sungguh tak mungkin jika menjadikan ibuku di usia larutnya harus ikut mencari uang. Cukuplah aku.
Melihat kondisi ini, wajar rasanya jika aku tak menginginkan Nalar menjadi penari topeng. Seperti anak-anak lainnya, aku ingin ia sekolah sampai semampuku membiayainya. Setelah lulus, ia bisa kerja di pabrik, penjaga toko, atau sales.
Harapanku pupus ketika tiga bulan lalu, Nalar diajak ibu mengunjungi makam Mbah Buyut di Desa Gabusan. Dua jam perjalanan naik bus. Sepulang dari sana, Nalar langsung mengobrak-abrik topeng-topeng yang sudah kusimpan rapi di dalam lemari kamarku. Di depanku, ia langsung memasang sampur yang dibelitkan di pinggang dan memasang topeng di wajahnya dengan cara digigit. Saat kutanya, ibuku membantah telah mengajarinya menari. Nalar sendiri tak mengatakan apa pun. Ia hanya menari menandak-nandak dan baru terdiam saat kucopot paksa topeng di wajahnya.
Bukannya meredam keinginan Nalar, ibuku malah semakin bersemangat mengajari Nalar menari. Dengan sisa gamelan di rumah, Ibu mengiringi Nalar menari. Bocah itu paling suka gerakan lerep sambil mengentakkan kaki ke tanah. Jika hanya menari, sebenarnya aku tak terlalu kesal. Aku hanya tak suka ketika Ibu mulai mengajari berbagai tirakat yang pernah diajarkannya kepadaku saat seusia Nalar. Anak itu sudah terlalu kurus untuk ikut-ikutan puasa dan sejenisnya. Sebagai ibunya, aku malu jika Nalar dianggap kurang gizi. Ditaruh ke mana mukaku. Seolah aku tidak cukup memberinya makan.
Inilah kenapa aku tak suka berharap. Berkali-kali aku dikhianati harapan. Aku berharap Nalar bisa kerja di pabrik, penjaga toko, atau sales. Setidaknya dengan tetap menjadi buruh nglinting rokok, aku bisa membiayainya sampai SMA. Memang ia baru tujuh tahun. Masih bisa ia berubah mengikuti harapanku. Tapi sekali lagi, aku benci berharap. Sangat membencinya ketika ayahku meninggal karena malaria, dan suamiku tak pernah pulang sejak pamit melaut tiga tahun silam.
Hanya tersisa satu lelaki di keluarga kami. Danu, kakak Nalar yang sekarang sudah kelas enam SD. Seharusnya aku seperti kebanyakan keluarga lainnya di kampungku, yang menaruh harapan ke anak lelakinya. Tapi bagiku, Danu tidak bisa diharapkan. Aku tidak bisa memercayai anak yang kulahirkan tanpa kutahu siapa ayahnya.
Mungkin karena aku tak menerima kehadirannya, Danu juga tak memedulikan kehadiranku. Ia lebih peduli pada Nalar. Baginya, Nalar lebih dari sekadar adik seibu. Nalar seolah dolanan yang tak pernah kubelikan sejak ia bisa merengek. Dolanan yang bisa membalas setiap sentuhan dan perhatiannya.
Sejak Nalar belajar menari, Danu tak lagi sering menghabiskan waktu dengan bocah-bocah lelaki yang kerap nongkrong di warung kopi Pak Gatot. Dulu, ia kupergoki terbatuk-batuk saat mengisap rokok pemberian anak-anak itu. Begitu aku lewat di depan warung, ia langsung klepas klepus berlebihan sambil duduk menekuk salah satu kakinya seperti gaya sopir truk yang suka mangkal di warung itu.
Belakangan ini, Danu lebih suka menunggui Nalar belajar joget. Ia menonton sambil menatah kayu randu untuk membuat topeng. Aku tak tahu dari siapa ia belajar. Pasti hanya coba-coba. Dari yang semula hasilnya topeng peyot, Danu mulai bisa menatahnya seukuran wajah Nalar.
Sebenarnya aku senang, Danu jadi tak banyak nongkrong di warung. Tapi tetap saja aku memiliki banyak celah untuk memarahinya. Apalagi jika aku pulang dari pabrik dalam keadaan lelah teramat sangat. Teras rumah penuh serpihan kayu, menjadi benda yang cocok sekali untuk kuraup dan kulemparkan ke wajahnya. Sambil kelilipan, biasanya Danu hanya menyimpan marah dan mengambil sapu lidi. Nalar hanya bisa menangis.
Kemarahanku pada Danu semakin memuncak dengan sakitnya Nalar. Gara-garanya empat hari lalu ketika aku mendapat tanggapan nari di kampung sebelah. Juragan beras desa sebelah menang jadi lurah. Aku diminta nari tayub dengan Yu Wasis. Ibu sebenarnya sudah tidak setuju aku tayuban. Lebih baik nopeng saja. Katanya, nopeng lebih terhormat ketimbang nayub. Aku sudah persetan dengan alasan itu. Yang penting ada uang beli beras.
Sepeninggalku, ternyata Nalar mencariku. Begitu ia dengar dari Danu bahwa aku dapat tanggapan nari, ia merajuk ingin menonton. Pikirnya aku nopeng. Danu berhasil meyakinkan mbahnya jika ia bisa menjaga Nalar. Segera saja keduanya menyusul tanpa sepengetahuanku.
Aku tak tahu kapan mereka sampai. Perhatianku lebih tersita ke berapa banyak lelaki berwajah berahi yang bisa kukalungi sampur. Mereka jelas-jelas lebih royal menyisipkan uang kertas ke dalam kembenku. Semakin malam, misiku tak cukup puas dengan puluhan tangan yang merogoh dadaku. Juragan beras yang punya gawe konon penggemar rahasiaku. Dia pasti bakal nyangoni aku duit berlembar-lembar jika bisa mengajaknya tidur. Sayangnya, niatku gagal ketika menjelang tengah malam, kulihat Nalar dan Danu berdiri termangu di deretan belakang penonton. Aku baru menyadari kehadiran mereka ketika hanya tinggal puluhan lelaki dewasa. Garis genit di bibirku mendadak wagu begitu melihat wajah pasi Nalar. Ia terlihat mimbik-mimbik tepat saat Kang Jono menyusup belahan dadaku. Aku langsung berlari turun dari panggung. Kuseret kedua anakku menjauh dari tempat itu. Biarlah malam itu menjadi rezeki Yu Wasis.
Sepanjang jalan pulang, kugelandang kedua anakku dengan perasaan kisruh. Di gendonganku, Nalar terus membenamkan wajahnya di cerukan dua buah dadaku. Sementara Danu tak mengeluarkan suara apa pun. Hanya bunyi srak-sruk kedua kaki telanjangnya yang bergegas mengikuti langkah kakiku.
Begitu sampai rumah, aku langsung masuk kamar dan membaringkan Nalar yang ternyata sudah tertidur. Setelah itu, aku keluar dan menarik tangan Danu yang sedari tadi berdiri mematung di ruang tengah. Tak kupedulikan teriakan ibuku yang sibuk bertanya ono opo tho iki sambil membenahi rambutnya yang acak-acakan selepas tidur. Aku menuju kamar penyimpanan topeng. Setahuku, Danu sangat takut masuk kamar itu. Setengah kudorong tubuhnya. Tak kupedulikan tangisnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku mengunci pintu. Masih sempat kudengar isak Danu dari dalam.
Paginya, aku terbangun oleh igauan Nalar dan panas keningnya yang menyengat ketiakku. ”Mas Danu. Mas Danu,” igaunya sambil merem. Lirih suaranya memanggil kakaknya membuatku beranjak dari kasur. Niatku untuk terus mengurung Danu kubatalkan. Setidaknya, jika merasakan kehadiran Danu, Nalar agak tenang.
Tak kutemukan Danu di kamar hukuman. Kudapati selot pintu pengunci tak lagi terpasang. Ibu pasti melepaskannya tadi pagi. Tapi saat kutanya, ia menyanggah. ”Tadi pagi saat bangun, pintunya sudah seperti itu,” ujar Ibu sambil memarut kelapa. Sejak saat itu, tak lagi kudapati Danu pulang.
Suhu badan Nalar sering naik turun sejak kepergian Danu. Sudah beberapa kali kubawa ke puskesmas dan dokter yang harganya lebih mahal, mereka tidak menemukan penyebab pastinya. Bermacam obat, baik yang resmi maupun alternatif, telah dicoba. Namun, hasilnya tetap sama saja. Nalar hanya terlihat anteng dan membaik kondisinya setiap kali menggenggam topeng yang dibuatkan Danu untuknya.
Sejak Nalar tak stabil kondisinya, keuanganku makin memprihatinkan. Sudah beberapa minggu pabrik tutup untuk sementara. Beberapa teman mengabarkan perusahaan rokok keluarga yang sudah berdiri sejak 50 tahun ini akan dijual. Tanggapan tayub pun mulai berkurang. Untunglah dua hari lalu, Pak Saidi, penabuh gamelan yang sering mengiringi aku nari, mengabarkan ada acara kampanye yang menginginkan tari topeng.
”Kok bukan tayub Pak?” tanyaku.
”Tayub memang lebih ramai. Tapi kampanyenya ini katanya pengen pengisi acaranya sopan. Terus karena kampanyenya soal apa sih itu namanya, kepedulian pada seni bangsa sendiri, makanya mereka ngumpulin beberapa kelompok seni di daerah ini,” kata Pak Saidi.
”Tapi yang dipilih yang sopan. Itu namanya enggak adil,” protesku.
”Ndak ngerti lah aku. Manut aja. Terus mereka minta topengnya dicat ijo semua, biar katanya peduli lingkungan.”
”Piye tho, katanya tadi peduli kesenian. Terus sekarang peduli lingkungan.”
”Yah, namanya juga kampanye biar kepilih. Apa saja biar ketok apik tho,” tukas Pak Saidi.
Tak kupedulikan tangisan Nalar yang memprotes topeng-topeng di rumah menjadi hijau. Hanya satu topeng yang tak kuganti warnanya. Topeng seukuran wajahnya yang dibuatkan Danu untuknya. Aku tak mau ambil risiko panasnya naik lagi di saat aku menari. Setidaknya setelah aku mendapat uang bayaran pentas, ia bisa kubawa ke dokter di kota.
Sore itu kuwanti-wanti ibu untuk menjaga Nalar di rumah. Sejak demam, aku memang tak pernah berani meninggalkannya cukup lama. Nalar masih ngambek saat aku pamitan. Ia menolak kucium pipi gembilnya. Bahkan, Nalar tak mau melihatku. Diselusupkan kepalanya di antara kaki mbahnya.
Aku mendapat giliran kedua setelah grup musik angklung yang menjadi hiburan pertama setelah pimpinan partai yang tengah kampanye memberikan kata sambutan. Meski bukan kampanye resmi, pesta rakyat yang diadakan sebuah partai itu dipadati warga desa yang haus akan hiburan. Apalagi sebelum acara dimulai dibagi sembako gratis.
Dengan takzim kupasang topeng di wajahku. Perlahan aku beranjak dari duduk bersilaku. Dari posisi yang membelakangi punggung, aku memutar badanku setelah yakin posisi topeng tak goyah. Saat itulah, ketika kuedarkan pandangan dari lubang di bagian mata topengku, aku melihat Nalar dan Danu berdiri di antara para penonton di bagian belakang. Mereka bergandengan tangan. Tarianku terhenti. Tubuhku beku. Di balik topengku, kulihat Nalar tersenyum. Sebelah tangannya menggenggam topeng kesayangannya. Perlahan ia memasang topeng itu di wajahnya. Sambil tetap bergandengan, kedua anakku berbalik. Melangkah menjauh entah ke mana. Itulah kali terakhir kulihat mereka berdua.

Karya: Haziel Fahril Cahya

USUL YANG BERMANFAAT

Hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul 06.00. “No, kamu sudah mau berangkat ke sekolah? Apa tidak terlalu pagi?” tanya Bu Sulastri, ibu Tino.
“Tino mau ke rumah Firman dulu, Bu. Ada pekerjaan rumah yang belum dikerjakan,” jawab Tino. Ibu mengangguk-angguk.
“Tino berangkat dulu, Bu!” Tino berpamitan.
“Ya, hati-hati di jalan. Belajar yang baik, ya!” pesan Ibu.
Hari itu Tino berangkat lebih pagi karena ingin meminjam buku Bahasa Indonesia pada Firman. Tak lama kemudian ia pun sudah ada di halaman rumah Firman. Tino mengetuk pintu. Firman berlari menuju ruang tamu dan segera membuka pintu.
“Eh kamu, No. ada apa pagi-pagi begini?” tanya Firman.
“Maaf, Man, aku ingin meminjam Buku Bahasa Indonesia. Pekerjaan rumahku belum kukerjakan,” jawab Tino.
“Oh kalau begitu, ayo kerjakan di dalam saja,” kata Firman.
Tino lalu mengerjakan PRnya.
“Kita berangkat sama-sama, No. kamu sudah siap, kan?” tanya Firman.
“Sudah, Man,” jawab Tino.
Firman pun berangkat ke sekolah dengan Tino. Sebelumnya mereka berpamitan kepada kedua orang tua Firman.
“Hati-hati di jalan ya, Nak,” kata ibu Firman.
“Baik, Bu,” jawab mereka serempak
Sepanjang jalan mereka bercakap-cakap.
“No, aku ada saran. Sisihkan uang jajanmu untuk membeli buku di koperasi sekolah. Dengan begitu, kamu bisa belajar berhemat dan memiliki uang simpanan untuk berbagai keperluan yang tidak terduga.”
“Apakah kamu juga sudah melakukan hal yang sama?” tanya Tino.
“Ya, No. aku merasakan manfaat dari menabung. Aku bisa membeli buku pelajaran dan alat tulis tanpa harus meminta kepada ibu,” jawab Firman, “Bahkan aku memiliki simpanan untuk biaya masuk SMA.”
“Wah, ternyata menabung itu menguntungkan ya. Terima kasih atas saranmu itu, Man. Kamu baik sekali. Aku akan mengikuti saranmu. Mulai besok, aku akan menabungkan sebagian uang jajanku,” kata Tino.
Mereka lalu berjalan menuju ruang kelas masing-masing. Kelas Tino letaknya dekat dengan kantor guru, sedangkan kelas Firman letaknya di dekat kantin sekolah. Mereka sama-sama kelas 9 SMP, namun mereka tidak sekelas. Mereka bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Tino menaruh tasnya di atas meja, lalu duduk di kursinya menanti bel masuk berbunyi. Di ruang kelasnya, ada tiga orang anak yang duduk sendirian. Salah satunya adalah Tino. Hal ini kurang menguntungkan bagi Tino, karena buku pelajaran yang dimilikinya tidak lengkap. Ia harus meminjam buku pelajaran anak lain lalu mengembalikannya lagi. Benar-benar suatu hal yang menyulitkan baginya.
Tino termasuk anak yang cerdas. Dia dapat menangkap semua pelajaran dengan baik. Dia juga mendapat nilai ulangan yang baik selama ini. Walaupun begitu, dengan kurang lengkapnya buku pelajaran yang dimiliki, ia kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas dari guru. Ia juga kesulitan membagi waktu untuk belajar karenanya.
Saat bel istirahat berbunyi, Tino segera keluar kelas untuk mencari Firman, sahabatnya. Ia ingin tahu lebih banyak tentang cara menabung di koperasi sekolah.
“Man, bagaimana cara menabung di koperasi sekolah?” tanya Tino.
“Oh, itu mudah sekali, No. Kamu harus membayar Iuran Pokok dan Iuran Wajib ketika pertama kali menabung. Setelahnya, kamu bisa menabung sejumlah uang sesuai dengan yang kau kehendaki. Setiap bulannya, kamu akan mendapat bunga.”
“Wah, menarik sekali ya. Kapan uang tabunganku boleh diambil Man?” tanya Tino.
“Sewaktu-waktu kamu membutuhkan, bisa kok, No.”
Mereka lalu berjalan ke kantin sekolah dan membeli makanan.
Tak berapa lama kemudian, bel tanda masuk pun berbunyi. Mereka berpisah untuk masuk ke kelas masing-masing.
Keesokan harinya, Tino membawa sejumlah uang untuk ditabung di koperasi sekolah. Firman mendampingi sahabatnya itu ketika mendapatkan buku tabungan dari koperasi sekolah. Tino merasa gembira karena dapat melakukan suatu hal yang baik.
Setelah itu, setiap hari Tino menabung sebagian uang jajannya di koperasi sekolah. Tino dan Firman selalu bersama-sama saat menabung di koperasi. Mereka menjadi makin akrab satu sama lain.
Tidak terasa, waktu terlewati dengan cepat. Ujian semester tinggal beberapa hari lagi, namun Tino sudah siap menghadapinya. Ia sudah memiliki simpanan yang cukup untuk membeli buku-buku pelajaran yang dibutuhkannya. Ia merasakan manfaat yang besar dari menabung.

Karya: Edowa Biantoro

SI KUTU BUKU

Anak baru bernama Fandi? Itu sih biasa .Tapi,kalau anak baru itu penampilannya beda ,nah itu baru menarik.Tubuhnya kurus tinggi,ia berkaca mata,dan selalu memakai tas pinggang.Oh ya, ia juga selalu membawa buku.
Mula –mula kawan sekelas bersikap menunggu .Namun,setelah tiga hari kelakuan Fandi tidak berubah.Ia tetap asyik dengan bukunya dan tidak berusaha mencari temen.”Yuk kita dekati Fandi.
Kelihatannya anak itu anaeh juga .Apa sih yang dibacanya sampai asyik begitu? jangan – jangan baca buku silat,” ajak Mira memang suka usil.
“Jangan bersangka buruk dulu, itu tidak baik,”kata Yuni mengingatkan.”Siapa tahu ia sedang belajar.” ”Wah,belum dikenal saja sudah di bela,”ejek Mira sambil tersenyum.
“sudahlah ,Tanya saja kalau kamu mau tahu !”usul Yuni,”itu pun kalau kamu berani.”
“berani saja!”jawab Mira.”asalkan berdua dengan kamu.”
Pada jam istirahat pertama ,Mira dan Yuni mendekati Fandi yang sedang asyik membaca sambil bersandar di tembok.kelas mereka memang terletak di ujung bangunan. “Fandi apakah kami boleh mengganggu ?”Tanya Mira .
Fandi agak terkejut,menutup buku,menaikkan kaca matanya,dan menjawab. “oh eh,yaa……tentu saja!” kedua anak itu memperkenalkan diri . “Rupanya kamu suka membaca buku, ya!” kata Mira. Fandi tersenyum . “Hmmm…..ya , rasanya tidak enak kalau tidak membaca .Di rumahku banyak buku dan memang aku seorang kutu buku . Kalian suka membaca ?”Tanya Fandi. “ya tapi tidak sehebat kamu .Kami masih punya waktu untuk berkawan. Kalau kamu bener – bener kutu buku !” kata Mira sambil tertawa.

”kamu sedang baca buku apa ?” Tanya Yuni penuh rasa ingin tahu. “Buku pengetahuan,” jawab Fandi sambil menunjukkan buku yang dibacanya. “Wow bahasa inggiris !” Mira dan Yuni dengan kagum.
“apakah kamu mengerti semua kata – kata di dalam buku itu ? tanya Mira.

“Tentu saja tidak inikan sambil belajar. Kalau ada kata yang tidak tahu artinya, kutulis di notes kecil,”jawab Fandi. Ia membuka tas kecil di pinggangnya dan memperlihatkan buku notes .”Nanti di rumah, baru kucari didalam kamus .Aku sudah mengikuti kursus bahasa inggiris. Kalau kita jadi maha siswa , kita perlu membaca buku –buku tebal –tabal dalam bahasa inggiris. Kalau belajar sejak sekarang ,kita akan terbiasa.siapa tahu kita melanjutkan studi ke luar negri. Orang – orang pandai selalu di perlukan di mana – mana, bukan? apalagi dalam zaman teknologi canggih sekarang ini,”jelas Fandi. “ Ya, kamau betul ,”kata Yuni.Walaupun masih muda ,ia sudah mulai merintis apa yang perlu untuk masa depannya.Ia bukan anak yang hanya tahu makan,sekolah,main dan kerja PR. “Biasanya kami hanya baca buku cerita,” kata Mira. “Aku juga suka baca buku cerita .Tetapi aku senang membaca buku pengetahuan juga.

“Kami kira kamu pendiam ,ternyata suka bicara juga!kata Mira. “Kalau mengenai pengetahuan aku bisa bicara banyak. Tapi kalau berkenalan ,aku tak tahu bagaimana cara memulai dengan baik. Untung kalian baik ,mau menegurku lebih dulu ,” kata Fandi berterus terang.

Kedua kawannya mengangguk –angguk mengerti.
“Baiklah silakan membaca lagi . Kapan –kapan kita bicara lagi .
Terima kasih atas cerita kamu .Itu menambah pengetahuan kami,” kata Mira .
“Kami minta izin dulu ,”kata Mira .
“Tentu ,itu penting !” Fandi setuju .
Kedua anak itu meninggalkan Fandi ,si kutu buku ,yang segera tenggelam dalam bacaanya. Diam – diam mereka membenarkan pendapat Fandi ,untuk mau membaca buku –buku pengetahuan ,di samping buku cerita biasa.

Karya: Filomena Setia