Pertalian Bentuk Makna Kata

Pertalian bentuk makna kata dibagi menjadi 6 macam, yakni:

1. Sinonim

adalah pasangan kata yang maknanya sama atau mirip. Perhatikan contoh berikut!

a. Pria yang berbadan besar itu sedang berdiri di pinggir jalan raya.

b. Karena jalan utama dipenuhi para demonstran, maka terpaksa kami melewati lorong sempit.

Pasangan kata `besar` dan `raya` memiliki makna yang sama, demikian pula dengan pasangan kata `jalan` dan `lorong`.

2. Antonim

adalah pasangan kata yang maknanya berlawanan atau berbeda. Perhatikan contoh berikut!

a. Mereka adalah pasangan suami-istri yang sakinah.

b. Bisa tidaknya mereka lulus ujian, sangat ditentukan pada saat persiapannya.

c. Ricky lebih menyukai warna biru daripada putih.

d. Baik pria maupun wanita, anak-anak maupun dewasa, miskin ataupun kaya, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang sukses.

3. Homonim

adalah pasangan kata yang baik penulisan (ejaan) dan pengucapannya (lafal) sama, namun memiliki makna yang berbeda. Perhatikan kalimat berikut!

a. Dukun itu tidak yakin bisa mengeluarkan bisa ular pada kaki pasiennya itu.

Kata `bisa` yang pertama bermakna `dapat`, sedangkan kata `bisa` yang kedua bermakna `racun`.

b. Ketika Hany membaca buku sampai halaman 47, ia diminta ibunya untuk menyapu halaman rumah.

Kata `halaman` yang pertama bermakna `nomor pada buku`, sedangkan kata `halaman` yang kedua bermakna `bagian depan rumah`.

4. Homograf

adalah pasangan kata yang memiliki persamaan ejaan, sedangkan lafal dan maknanya berbeda. Perhatikan kalimat berikut!

a. Lina tahu bahwa Feli suka makan tahu.

Kata `tahu` yang pertama bermakna `mengerti`, sedangkan kata `tahu` yang kedua bermakna `makanan dari kacang kedelai`.

b. Para pejabat teras Pemkab Probolinggo sedang duduk di teras rumah dinas Bupati.

Kata `teras` yang pertama bermakna `penting/tinggi`, sedangkan kata `teras` yang kedua bermakna `bagian depan rumah`.

5. Homofon

adalah pasangan kata yang memiliki persamaan lafal, sedangkan ejaan dan maknanya berbeda. Perhatikan kalimat berikut!

a. Danny merasa sangsi dengan pernyataan gurunya yang akan memberikan sanksi kepada Zambada.

Kata `sangsi` yang pertama bermakna `ragu-ragu`, sedangkan kata `sanksi` yang kedua bermakna `hukuman`.

b. Butet dan Bang Nando pergi ke Bank Jatim untuk menyimpan uang mereka.

Kata `bang` yang pertama bermakna `kakak laki-laki`, sedangkan kata `bank` yang kedua bermakna `lembaga penyimpanan uang`.

6. Polisemi

adalah kata yang memiliki makna beragam (lebih dari 2 makna). Perbedaan makna tersebut terjadi karena struktur kata yang berlaku pada konteks kalimat. Perhatikan kalimat berikut!

a. Ketika Efendy dan Theo pergi ke kaki Gunung Bromo, mereka melihat banyak orang sedang makan sop kaki sapi di areal pedagang kaki lima.

b. Karena kebingungan membuat kepala surat, Hany mengalami sakit kepala sehingga orang tuanya menghubungi kepala sekolah agar diizinkan tidak masuk sekolah.

Kata Ulang (Reduplikasi)

Kata Ulang Kata yang mengalami perulangan kata sebagian atau seluruhnya dan mengakibatkan makna yang berbeda-beda.

Macam-Macam Kata Ulang

Kata ulang dibagi menjadi 4 macam, yakni:

1. Kata Ulang Utuh (K.U. Dwilingga), yakni perulangan kata yang dialami oleh seluruh kata dasar.

Contoh:

a. anak-anak

b. rumah-rumah

2. Kata Ulang Sebagian (K.U. Dwipurwa), yakni perulangan kata yang dialami oleh sebagian dari kata dasar.

Contoh:

a. pepohonan

b. tetangga

3. Kata Ulang Berimbuhan, yakni perulangan kata yang melibatkan morfem terikat (afiks)

a. kejar-kejaran

b. mobil-mobilan

4. Kata Ulang Salin Suara (K.U. Dwilingga Salin Suara), yakni perulangan kata yang dialami oleh seluruh kata dasar namun mengalami perubahan fonem pada salah satu kata dasarnya.

Contoh:

Perubahan fonem vokal

a. mondar-mandir

b. gerak-gerik

Perubahan fonem konsonan

a. sayur-mayur

b. lauk-pauk

Catatan: kata-kata berikut tidak termasuk kata ulang dalam bahasa Indonesia karena tidak sesuai dengan pengertian kata ulang itu sendiri. Maka kata-kata berikut dinamakan Kata Ulang Semu.

Contoh: a. tiba-tiba

b. kura-kura

c. pura-pura

d. lumba-lumba, dll.

Makna Kata Ulang Dalam Bahasa Indonesia

Macam-macam makna atau nosi kata ulang, di antaranya sebagai berikut.

1. Kata ulang yang menyatakan `banyak tidak menentu`.

Contoh:

- Di tempat kakek, terdapat pepohonan yang rimbun dan lebat sekali.

- Pulau-pulau yang ada di dekat perbatasan dengan negara lain perlu diperhatikan oleh pemerintah.

2. Kata ulang yang menyatakan `sangat`.

Contoh:

- Jambu merah Pak Alex besar-besar dan memiliki kenikmatan yang tinggi.

- Anak kelas IX orangnya malas-malas dan sangat tidak koperatif.

3. Kata ulang yang menyatakan `paling`.

Contoh:

- Setinggi-tingginya Agus naik pohon, pasti dia akan turun juga.

- Zambada dan Edowa mencari kecu sebanyak-banyaknya untuk makanan ikan cupang kesayangannya.

4. Kata ulang yang menyatakan `mirip` / `menyerupai` / `tiruan`.

Contoh:

- Marcel membuat kapal-kapalan dari kertas yang dibuang Pak Mulyanto tadi pagi.

- Ricky main rumah-rumahan bersama Rexy seharian di halaman rumah.

5. Kata ulang yang menyatakan `saling` atau `berbalasan`(resiprok).

Contoh:

- Ketika mereka berpacaran selalu saja cubit-cubitan sambil tertawa.

- Saat lebaran biasanya keluarga di RT IV kunjung-kunjungan satu sama lain.

6. Kata ulang yang menyatakan `bertambah` atau `makin`.

Contoh:
- Biarkan dia main hujan! Lama-lama dia akan bosan juga.

- Ayah meluap-luap emosinya ketika tahu dirinya masuk perangkap penipu kartu kredit.

7. Kata ulang yang menyatakan `waktu` atau `masa`.

Contoh:
- Orang katro dan ndeso itu datang ke rumahku malam-malam.

- Datang-datang dia langsung tidur di kamar karena kecapekan.

8. Kata ulang yang menyatakan `berusaha` atau `penyebab`.

Contoh:
- Setelah kejadian itu dia menguat-nguatkan diri mencoba untuk tabah.

9. Kata ulang yang menyatakan `terus-menerus`

Contoh:
- Anjing buduk dan rabies itu suka mengejar-ngejar anak kecil yang lewat di dekat kandangnya yang bau.

- Lina selalu bertanya-tanya pada dirinya apakah kesalahannya pada Hany dapat termaafkan.

10. Kata ulang yang menyatakan `agak` (melemahkan arti).

Contoh:
- Karena berjalan sangat jauh kaki Putra sakit-sakit semua.

- Jangan tergesa-gesa begitu dong, nanti jatuh!

11. Kata ulang yang menyatakan `beberapa`.

Contoh:

- Sudah bertahun-tahun nenek tua itu tidak bertemu dengan anak perempuannya yang pergi ke Hongkong.

- Mas Agung berminggu-minggu tidak apel ke rumahku. Ada apa ya?

12. Kata ulang yang menyatakan `sifat` atau `agak`.

Contoh:

- Lagak si bencong itu kebarat-baratan kayak dakocan.

- Wajahnya terlihat kemerah-merahan ketika pujaan hatinya menyapa dirinya.

13. Kata ulang yang menyatakan `himpunan pada kata bilangan`.

Contoh:

- Coba kamu masukkan gundu bopak itu seratus-seratus ke dalam tiap plastik!

- Jangan beli makanan banyak-banyak, Nak, nanti uang sakumu habis!

14. Kata ulang yang menyatakan `bersenang-senang` atau `santai`

Contoh:

- Dari tadi padi Filo kerjanya cuma tidur-tiduran di sofa.

- Ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari.

Kalimat Berobjek dan Kalimat Berpelengkap

KALIMAT BEROBJEK adalah kalimat yang menggunakan objek sehingga bisa dipasifkan.

KALIMAT BERPELENGKAP adalah kalimat yang menggunakan jabatan pelengkap. Kalimat berpelengkap tidak bisa dipasifkan.

Berikut ini perbedaan kalimat berobjek dan kalimat berpelengkap.

Kalimat Berobjek

Kalimat Berpelengkap

1. Kategori katanya nomina atau nominal (kata benda)

2. Berada langsung di belakang verba transitif aktif tanpa preposisi (kata depan)

3. Dapat dipasifkan.

4. Dapat diganti dengan -nya

1. Kategori katanya dapat nomina, verba (kata kerja), atau adjektiva (kata sifat)

2. Berada di belakang verba semitransitif atau dwitransitif dan dapat didahului oleh preposisi

3. Tidak dapat dipasifkan

4. Tidak dapat diganti dengan kata –nya, kecuali jika didahului oleh preposisi selain di, ke, dari, dan akan

Persamaan kalimat berobjek dan kalimat berpelengkap ialah keduanya berada di belakang predikat.

Konflik Dalam Karya Sastra

Konflik merupakan bagian dari alur (plot) sebuah cerita. Konflik adalah situasi di mana telah terjadi perselisihan yang dialami tokoh dengan dirinya sendiri atau dengan tokoh yang lain dalam sebuah cerita. Konflik selalu saja mengarah pada hal yang negatif. Di dalam konflik, perlu adanya pemecahan atau jalan keluar.

Macam-macam konflik adalah sebagai berikut.

1. Konflik Fisik

Konflik fisik terjadi apabila di dalam sebuah adegan cerita, terdapat kejadian adu fisik antartokoh. Bentuk konflik fisik dapat berupa adu tinju, adu pedang (dengan alat), saling tendang, dan lain sebagainya. Inti dari konflik fisik adalah, salah satu tokoh akan ada yang terluka. Hal ini terjadi karena adanya konfrontasi langsung antartokoh.

2. Konflik Batin

Konflik batin adalah sebuah keadaan di mana seorang tokoh mengalami sebuah kegundahan di dalam hatinya. Konflik batin selalu menggunakan perasaan. Bentuk konflik batin adalah amarah yang terpendam, balas dendam, sakit hati, sedih, terharu, dan lain sebagainya.

3. Konflik Ide

Konflik ide terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Hal ini selalu diungkapkan dalam bentuk dialog yang isinya saling bertentangan dan berusaha untuk mempertahankan pendapat si tokoh.

4. Konflik Psikis

Konflik psikis adalah bentuk ketegangan yang dialami satu tokoh dalam sebuah cerita. Bentuk konflik psikis dapat digambarkan dengan keadaan seseorang yang sedang mengalami sakit jiwa (gila), stress, shock, atau tindakan yang dialami tanpa sebab yang pasti.

5. Konflik Lahir

Konflik lahir terjadi karena perbedaan asal-usul tokoh dalam sebuah cerita. Di dalam cerita, biasanya digambarkan adanya perbedaan watak setiap tokoh. Watak tokoh digambarkan sebagai bawaan sejak lahir. Bentuk konflik lahir dapat berupa watak sombong, pemarah, dan lain sebagainya.

« Entri lama